Menjelang tahun 2010, di bulan Desember 2009 yang lalu saya chatting dengan seorang kawan. Dia bilang badan saya kurus sekali sekarang. Yaa, memang saya terakhir menimbang berat badan sekitar 45 kg, dengan tinggi sekitar 156 cm. Dari situ jelas, tampak kurus juga badan saya ini. Haha! Dari pernyataan kawan saya itu, yang terlintas di pikiran saya adalah saya harus menggemukkan badan. Maka dengan spontan saya ketik, ‘Whaa, resolusi aku 2010, jadi lebih gemuk dan sehat!’.
Resolusi. Kata yang memiliki banyak arti. Tapi dalam hal ini, resolusi yang saya maksud adalah sebuah harapan, tujuan, cita-cita, dan keinginan yang akan di capai dalam tahun 2010 ini. Kalau berupa harapan, tentunya akan tertanam dalam hati kecil kita, menjadi tinggal dalam alam bawah sadar kita, dan akan mempengaruhi apa saja yang kita lakukan. Yah, setidaknya itu sedikit ilmu yang saya dapat dari The Secret.
Berarti saya harus lebih gemuk! Itu yang saya pikirkan. Lalu, bagaimana caranya? Saya salah satu dari jenis orang yang suka lupa dan telat makan kalau sudah tenggelam dalam suatu hal atau pekerjaan. Jadi, agak sulit mengatur pola makan. Kecuali dengan banyak paksaan dari luar. Haha! Saya juga jarang berolahraga saat ini. Tentulah terlintas bahwa pola hidup saya tak sehat. Hufh.. Susah sekali untuk mulai berdisiplin diri kembali..
Suatu hari di Januari 2010, dalam perjalanan pulang ke rumah dengan angkutan umum khas Jakarta, busway, saya berbincang dengan seorang kawan seperjalanan. Pembicaraan yang awalnya basa-basi, tapi kelamaan menjurus ke hal yang sifatnya curcol (curhat colongan). Yah, saya menyisipkan resolusi saya yang ingin lebih gemuk itu dalam pembicaraan bersamanya. Dia memang bukan orang yang gemuk berisi, tapi badannya cukup ideal dengan tinggi badannya. Lalu, dia menyarankan saya untuk mengonsumsi suplemen Natur-E. “Lho, itu bukannya untuk kesehatan kulit yaa, mba?”, itu pertanyaan yang saya lontarkan kepadanya. “Iya, benar. Saya pakai minum itu kok, coba aja dulu”, itu jawabnya. Saya tahu, dia sedang tidak promosi akan merek dagang suplemen tersebut. Dia hanya sekedar berbagi cerita. Yah, bagi produsen, komunikasi sesama konsumen akan suatu produk memang memberi nilai timbal balik bagi produsen produk tersebut. Setidaknya itu yang saya pernah dapat dari salah satu mata kuliah saya.
Entah dorongan macam apa yang terjadi pada saya, saya pun pergi ke sebuah minimart dan mencari suplemen yang disarankan kawan seperjalanan saya itu. Saya teliti benar produk tersebut. Saya baca informasi yang tertera pada bungkusnya. Memang benar, itu adalah suplemen untuk kesehatan dan kecantikan kulit, seperti yang terlontar dalam iklan komersialnya di televisi. Tidak ada sedikit pun informasi tentang khasiat suplemen dapat meningkatkan berat badan. Hm, akhirnya saya putuskan untuk membelinya. Dicoba saja dulu, kalau memang tidak menunjang nafsu makan saya, yah setidaknya mampu menjaga kesehatan kulit. Walaupun tanpa sadar, sebenarnya saya berharap banyak akan suplemen tersebut dapat membantu meningkatkan berat badan saya, minimal meningkatkan nafsu makan saya lah..
Awalnya saya mengonsumsi suplemen tersebut, tidak ada efek mencolok yang saya rasakan. Tapi tetap saja saya teruskan, dengan harapan nafsu makan saya bertambah. Itu saja yang memenuhi pikiran saya. Dan benar. Akhir-akhir ini saya merasa lebih sering lapar, dan agak sulit mengatur keinginan perut itu. Bahkan, sekarang saya agak sulit berkonsentrasi jika perut lapar. Beda sekali dengan dulu, saya masih bisa menahan rasa lapar saya. Pada kondisi sekarang ini, saya bersyukur karena keinginan saya perlahan-lahan saya wujudkan. Mulai dari dulu susah kalau disuruh makan, hingga sekarang susah kalau menahan lapar. Haha!
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya? Sederhana, hanya keterkaitan antara keinginan, pikiran, sugesti, dan kenyataan. Resolusi saya yang ingin menambah berat badan itu menjadikan pikiran saya terpusat melulu pada bagaimana caranya mewujudkan keinginan saya. Pikiran tersebut mendatangkan sugesti. Saya tersugesti untuk membeli suplemen yang tidak ada hubungannya dengan berat badan. Tetapi pikiran saya tetap percaya bahwa suplemen ini dapat memberikan hasil yang berarti bagi saya. Suplemen, adalah salah satu cara dan alat bantu dalam mewujudkan keinginan saya. Suplemen mampu menimbulkan pikiran dan kepercayaan penuh akan terwujudnya keinginan saya. Akhirnya, saya pun perlahan-lahan menjalani cara-cara bagaimana agar keinginan saya itu terwujud..Haha!
Jadi, tanamkanlah keinginanmu, datangkan energi positif demi keinginanmu, dan ciptakanlah hari-harimu. Lalu, bagaimana dengan Yang Maha Kuasa? Bukankah hidup adalah kehendak Yang Maha Kuasa? Yup, hidup memang kehendak Tuhan, maka seringlah berkomunikasi dengan-Nya untuk berkonsultasi atas keinginanmu. Selamat menikmati resolusi, suplemen, dan sugesti. Semoga keinginanmu terkabul!
God Bless Us!